
Bupati Kampar Ahmad Yuzar menyerahkan proposal pembangunan Museum Muara Takus kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon, saat kunjungan kerja ke situs cagar budaya tersebut,
MUARA TAKUS — Bupati Kampar serahkan proposal Museum Muara Takus kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon, saat kunjungan kerja ke situs cagar budaya di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Ahad (18/10/2026).
Penyerahan dokumen ini merupakan langkah konkret Pemerintah Kabupaten Kampar dalam mendorong pelestarian, penelitian, dan pengembangan kawasan situs agar semakin terawat serta memiliki fasilitas pendukung yang memadai. Bupati Ahmad Yuzar berharap dukungan pemerintah pusat dapat mempercepat pembangunan museum, penataan taman, serta pembenahan sarana prasarana di kawasan cagar budaya yang menjadi salah satu kebanggaan sejarah dan budaya masyarakat Kabupaten Kampar tersebut.

“Kami berharap dukungan Bapak Menteri untuk pembangunan Museum Muara Takus dan penataan kawasan inti candi, termasuk taman serta sarana pendukung lainnya. Kami menyampaikan proposal ini karena pengembangan kawasan tersebut memerlukan sinergi dengan pemerintah pusat, terutama untuk pekerjaan yang berada dalam kewenangan Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan,” ujar Ahmad Yuzar.
Menurut Bupati, Candi Muara Takus memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah, budaya, dan spiritual. Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat upaya pelestarian warisan sejarah, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisatawan, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, serta mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta usaha pariwisata lokal.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., menyambut baik inisiatif Pemerintah Kabupaten Kampar. Setelah meninjau langsung sejumlah bagian kompleks candi, beliau menyatakan kesiapan kementeriannya untuk mendukung langkah-langkah pelestarian, termasuk pembersihan lumut pada struktur bangunan, penelitian terhadap situs yang belum terungkap, serta renovasi bagian bangunan yang mengalami kerusakan sesuai kaidah pelindungan cagar budaya.
“Kita harus memastikan setiap tindakan di kawasan ini didasarkan pada kajian ilmiah agar nilai sejarahnya tetap terjaga,” imbuhnya.
Menteri juga meminta Pemerintah Kabupaten Kampar menyusun pemetaan dan inventarisasi kebutuhan pengembangan kawasan, mencakup aspek lahan serta teknis pelaksanaan. Penelitian mendalam oleh para ahli arkeologi diperlukan untuk memperkaya pemahaman mengenai sejarah, struktur, dan potensi temuan di sekitar kompleks candi yang diduga berkaitan dengan masa Kerajaan Sriwijaya, sekitar abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi.

Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Agus Widiatmoko, S.S., M.M., turut menekankan pentingnya pendekatan akademis dalam setiap upaya pemugaran dan penataan kawasan. Keberadaan bangunan stupa, material bangunan, serta temuan arkeologis menjadi bukti penting kehidupan komunitas masa lampau yang perlu diteliti dan dilestarikan secara berkelanjutan.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Syahrul Aidi Maazat, Lc., M.A., menyatakan dukungannya terhadap upaya ini. Beliau berharap kunjungan langsung Menteri Kebudayaan dapat ditindaklanjuti dengan program konkret, sehingga kebutuhan yang selama ini disampaikan pemerintah daerah memperoleh perhatian dan penanganan sesuai kewenangan masing-masing instansi.
Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, A.P., M.Si., yang hadir mewakili Penjabat Gubernur Riau, menyampaikan apresiasinya. Beliau menegaskan dukungan Pemerintah Provinsi Riau dalam menjaga kelestarian warisan budaya sekaligus mengoptimalkan potensi kawasan bagi pembangunan daerah.

Kunjungan kerja tersebut juga dihadiri oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV, budayawan Riau, perwakilan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, serta unsur pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Melalui proposal ini, Pemerintah Kabupaten Kampar menegaskan komitmennya mengembangkan Muara Takus secara terpadu — sebagai pusat edukasi, penelitian, wisata budaya, dan penggerak ekonomi masyarakat — tanpa mengurangi nilai autentik dan sejarah yang dimilikinya.
Baca juga >> Satresnarkoba Polres Rohul Amankan 3 Pria Bonai Darussalam
Sumber: Diskominfo Kampar.
Editor: Mgz|GiaWa.




